Sejarah Singkat Sultan Mustaim Billah, Raja Ke-4 Kerajaan Banjar

WARTAKOTA.NET – Desa Sungai Kitano, salah satu desa yang berada di kawasan Martapura Timur Kabupaten Banjar ini pernah menjadi pusat pemerintahan pada zaman kerajaan. Hal itu terbukti dengan adanya makam Raja ke IV bernama Sultan Mustaim Billah.
 
Sultan Mustaim Billah ini merupakan anak dari Raja Banjar ke III yang bernama Sultan Hidayatullah I. Sultan Mustaim Billah lahir dengan nama Pangeran Senapati.
 
Keberadaan Sultan Mustaim Billah di Desa Sungai Kitano ini merupakan perpindahan lokasi kerajaan Banjar yang sebelumnya berpusat di wilayah Kuin Banjarmasin yang dihancurkan oleh pihak Belanda. Dan di Desa Sungai Kitano sendiri hanya bertahan selama sekitar 7 tahun.
 
Dituturkan oleh sejarawan Banjar, Gusti Marjan yang ditemui oleh wartakota.net, Sultan Mustaim Billah memimpin pemerintahan sejak tahun 1596 – 1619.

“Namun beliau memimpin kerajaan di wilayah Kuin dari  1596-1912, selanjutnya pada tahun 1613 beliau memindahkan kerajaan ke Daerah Pemakuan Laut,” ujar Marjan.

Setelah itu lanjut Marjan, pindah lagi ke Muara Tambangan dekat Desa Dalam Pagar, barulah pindah ke wilayah Batang Banyu yang saat ini menjadi Desa Sungai Kitano.

Di Desa Sungai Itano inilah Sultan Mustaim Billah memimpin sampai tahun 1619, yang selanjutnya digantikan oleh anak beliau Sultan Inayatullah sampai tahun 1637.
 
“Kalau lokasi makam beliau itu bukan lokasi kerajaan banjar, tapi masih di sekitar makam hanya lebih ke atas lagi yang saat ini banyak menjadi wilayah persawahan. Namanya dulu adalah balai raja. Dulu itu kan kerajaan ini banyak dipinggir sungai, makanya Belanda itu sangat mudah menghancurkan dengan kapal meriam,” paparnya.
 
Gusti Marjan juga menceritakan bahwa selama memimpin Kerajaan Banjar, Sultan Mustaim Billah sangat taat menerapkan  akidah agama Islam. Dan dimasa kepemimpinan Sultan Mustaim Billah jualah lahirnya istilah Manteri Empat, diantaranya Cindu Mu’i, Cindu Aji, Cindu Mani, dan Bayan Sampit.

Namun saat ini yang banyak diketahui orang sambung Gusti Marjan, hanya Cindu Mu’i yang makamnya ada di wilayah Sungai Tabuk.

“Mereka itu adalah para mantri beliau yang membantu semasa kepemimpinan Sultan Mustaim Billah,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut Gusti Marjan menceritakan, di masa kepemimpinan Sultan Mustaim Billah ini juga terjadi tragedi perang saudara, yaitu perang antar kelompok desa dan dijuluki penguasa buaya darat antara penguasa buaya laut. Oleh Sultan Mustaim Billah dibuatlah sungai tabukan yang hingga kini sungai tabukan ini masih ada di wilayah Sungai Kitano. Tujuan dibuatnya sungai tabukan ini untuk membagi wilayah kekuasaan antar kelompok tadi setelah diskusi perdamaiaan.
 
“Lokasi pinggiran sungai tabukan ini banyak terbentuk nama-nama desa, yaitu Desa Tangkas, sejarah dinamai Desa Tangkas ini karena di sana dulu itu menjadi tempat dua pasukan berlatih secara tangkas,” jelasnya.

Setelah itu, lahir juga Desa Bumi Rata. Desa Bumi Rata ini tempat pertempuran yang semuanya rata, termasuk pohon-pohonan akibat pertempuran.

“Ada juga Desa Mataraman, nama Mataraman ini diambil karena setelah kedua pasukan tadi bertarung beberapa hari siang malam, jadi mata mereka itu jadi raman-raman. Dinamailah Desa Mataraman,” tuturnya.

Sementara Muhammad, warga Sungai Kitano mengatakan, selama ini makam Sultan Mustaim Billah dirawat oleh masyarakat setempat. Dan sebelum bangunan makam dibuat permanen, masyarakat selalu gotong royong membersihkan area makam.

“Banyak juga sih yang datang berziarah ke sini, ada dari keluarga kesultanan, ada juga masyarakat umum. Untuk sejarah lengkapnya saya tidak begitu tahu, tapi yang pasti Sultan Mustaim Billah ini dikenal masyarakat sangat perduli dengan rakyatnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, masyarakat Sungai Kitano sangat bangga karena di desa mereka pernah berdiri sebuah Kerajaan Banjar. Bahkan keberadaan makam Sultan Mustaim Billah ini seakan menjadi ikon berharga untuk masyarakat Sungai Kitano, dan sebagai pengingat bahwa Kerajaan Banjar pernah berdiri di sini.
 
Berdasarkan sejarah, Sultan Mustaim Billah meninggal dunia akibat sakit yang lama ia derita. Namun sejarawan tidak mencatat secara pasti mengenai kapan meninggalnya Sultan Mustaim Billah.

“Selama Sultan Mustaim Billah menderita sakit, puncak kepemimpinan diambil alih untuk sementara oleh Mangku Bumi. Setelah meninggal barulah Pangeran Inayatullah yang diangkat menjadi Raja Banjar ke-V.

Sementara itu, Pangeran Inayatullah yang merupakan putera sulung Sultan Mustaim Billah, dilantik sebagai Sultan Muda yaitu Pangeran Dipati Tuha dengan gelar Sultan Inayatullah. Sedangkan putera ke-2 dilantik sebagai mangkubumi menggantikan Almarhum Kiai Tumenggung Raksanegara, yaitu Pangeran Dipati Anom 2 dengan gelar Pangeran di Darat.

Dari periode raja pertama Sultan Suriansyah sampai dengan Sultan Inayatullah atau Ratu Agung, orang-orang yang pernah menjabat sebagai mangkubumi diangkat bukan dari anak raja secara berurutan, yaitu Patih Aria Taranggana, Kiai Anggadipa, Kiai Jayanegara, dan Kiai Tumenggung Raksanegara (Kiai Tanuraksa). (sai)

What do you think?

Tinggalkan Balasan

Pengamat Politik: Dua Partai Belum Ambil Sikap, Kandidat Pasangan Calon Bisa Bertambah

Jasad Laki-laki Ditemukan Mengapung di Saluran Irigasi