Banjarbaru, Kota By Design yang Miliki Banyak Wisata Kampung Tematik

Kota Banjarbaru merupakan sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa (by design) oleh arsitek asal Belanda, D.A.W Van der Pijl. Kota ini berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,30 km² (37.130 ha) atau 3,8 x luas Banjarmasin atau ½ luas Jakarta. Kota berjuluk Kota Idaman ini terbagi atas 5 Kecamatan dan 20 Kelurahan.

Secara umum, Kota Banjarbaru memang tidak banyak memiliki destinasi wisata alam seperti kabupaten/kota lainnya yang ada di Kalimantan Selatan. Meskipun demikian, di bawah kepemimpinan H Nadjmi Adhani dan H Darmawan Jaya Setiawan sebagai pasangan Walikota – Wakil Walikota Banjarbaru, kini Kota Banjarbaru memiliki banyak destinasi wisata yang tersebar di 20 kelurahan.

Pasangan duet Nadjmi Adhani – Darmawan Jaya Setiawan, begitu jeli melihat potensi wisata yang ada di masing-masing kelurahan di Banjarbaru. Ide-ide serta inovasi terus muncul dari benak Nadjmi – Jaya, untuk mewujudkan destinasi wisata buatan yang menarik dan murah meriah, seperti wisata kampung-kampung tematik.

Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani memberikan ‘tantangan’ kepada para camat dan lurah se-Kota Banjarbaru, untuk mewujudkan kampung-kampung tematik itu. Hasilnya? Para camat dan lurah menjawab tantangan tersebut dengan baik, kini Banjarbaru memiliki 31 destinasi wisata yang sebagian besar adalah wisata kampung tematik.

Di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin misalnya. Di sana ada sebuah kampung tematik yang diberi nama Kampung Pesona Kasturi (KPK) dengan pesona alam persawahan dan perkebunan buahnya. Lalu di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan ada Kampung Pelangi yang penuh warna.

Kemudian, bagi Anda yang gemar minum jamu dan ingin terus menjaga kesehatannya, di Kelurahan Loktabat Selatan Kecamatan Banjarbaru Selatan ada Kampung Pejabat (Pengolah Jamu dan Obat), Kampung Purun di Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka, Kampung Iwak (Ikan) di Kelurahan Mentaos Kecamatan Banjarbaru Utara, sampai Kampung Sayur di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang.

Terbaru, ada lagi Kampung Sulam Pita Tangan atau Kampung Sultan yang ada di Kelurahan Loktabat Selatan Kecamatan Banjarbaru Selatan, yang diresmikan oleh Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan beberapa waktu lalu.

Selain itu, di Kelurahan Loktabat Selatan juga ada destinasi wisata buatan lainnya, yaitu Menara Pandang 33 yang berada di tepi Jalan A Yani Km 33 Banjarbaru. Menara ini melintang dan berdiri kokoh di atas Sungai Kemuning. Dari menara ini, Anda bisa memandang dan menikmati keindahan Sungai Kemuning yang tampilannya sudah jauh lebih baik dan semakin baik, tidak ada kesan kumuh lagi.

Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani melalui Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Banjarbaru Hidayaturahman mengatakan, tidak hanya kampung-kampung tematik, di Kota Banjarbaru juga ada wisata alam buatan seperti Danau Seran dan Danau Caramin yang berada di Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka. Danau-danau ini merupakan eks lokasi pendulangan intan.

Meskipun Banjarbaru tidak memiliki sumber daya alam untuk dijadikan sebagai destinasi wisata, ungkap Hidayaturahman, namun bukan berarti Pemerintah Kota Banjarbaru di bawah kepemimpinan Nadjmi Adhani – Darmawan Jaya Setiawan tidak berbuat apa-apa (berdiam diri) untuk menarik wisatawan datang ke Kota Banjarbaru.

“Justru dengan tidak punya destinasi alam, ini membuat kita berpikir lebih keras bagaimana caranya supaya lebih banyak orang bisa datang ke Banjarbaru dan lebih lama menginap di Banjarbaru,” bebernya kepada Redaksi8.com, usai kegiatan bersih-bersih Sungai Kemuning beberapa waktu lalu.

Untuk itu sambung Dayat (sapaan akrab Hidayaturahman), selain membenahi destinasi yang ada di Kota Banjarbaru, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Disporabudpar Kota Banjarbaru juga melaksanakan promosi wisata Banjarbaru ke luar daerah.

“Beberapa waktu lalu kami beserta bidang pariwisata dan bidang budaya, melaksanakan promosi di Loksado (HSS). Kami melaksanakan promosi di delapan kabupaten/kota Kalsel dan Kalteng, dan mungkin dampaknya sudah mulai terasa selama satu tahun terakhir,” terang Dayat.

Dampak promosi wisata itu kata Dayat, dapat dilihat dari banyaknya orang yang berkunjung ke Kota Banjarbaru setiap hari Sabtu dan Minggu (akhir pekan). Dengan demikian, hal tersebut juga secara tidak langsung berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat Kota Banjarbaru, khususnya para pelaku ekonomi kreatif/UMKM di Banjarbaru.Ayo, Ke Banjarbaru! (dk)

What do you think?

Tinggalkan Balasan

Darmawan Jaya Ingin Purun dan Sasirangan Bordir Tampil di Bandara Baru

Pria Tanpa Identitas Ini Meninggal Dunia Diduga OD