Pilkada Bakal Dilaksanakan di Tengah Pandemi Corona, Anggaran Membengkak?

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, HM. Hilman.

WARTAKOTA.NET – Hingga kini, wabah virus corona masih belum mereda di wilayah Kabupaten Banjar.

Namun di sisi lain, pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) harus tetap dilaksanakan meskipun di tengah Pandemi.

Pemerintah Kabupaten Banjar pun harus tetap menyiapkan anggaran pelaksanaannya.

Demikian disampaikan Sekda Kabupaten Banjar, HM Hilman.

Hilman mengatakan, saat ini masih dibahas mengenai total keseluruhan anggaran pelaksanaan Pilkada dan Pilkades di Kabupaten Banjar.

Masih kata Hilman, pelaksanaan Pilkada di tengah Pandemi dipastikan akan terjadi pembengkakan anggaran.

Pasalnya, pelaksanaan Pilkada nantinya tentu harus menerapkan protokol kesehatan sehingga bakal ada penambahan jumlah TPS.

“Dulu satu TPS maksimum 800 pemilih, sekarang maksimum 500 pemilih. Belum lagi ditambah TPS khusus bagi orang tua yang rentan terpapar Covid-19 dan orang dengan penyakit bawaan,” ujar Hilman.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, HM. Hilman.

Tak hanya itu tambah Hilman, nantinya juga akan ada pengadaan Alat Pelindung Diri (PAD) untuk petugas di TPS.

Hal tersebut juga akan menambah biaya untuk penyelenggaraan Pilkada.

“Sempat ada permintaan agar APD untuk Bawaslu khususnya Panwascam adalah APD level tiga, tapi kami rasa itu terlalu berat karena APD level tiga itu untuk orang di ruang isolasi, jadi kita minta cukup pakai level 1 saja,” beber Hilman.

Lebih jauh Hilman menyampaikan, terkait adanya pengurangan anggaran Pilkada lantaran tak ada kampanye terbuka memang benar terjadi.

Pengurangan anggaran Pilkada itu sebut Hilman, sekitar Rp1,5 miliar.

Namun berdasarkan perhitungan, terjadi pembengkakan anggaran sebesar Rp 8 miliar. Dengan demikian, tambahan anggaran untuk Pilkada serentak terhitung sekitar Rp 5,5 sampai Rp 6 miliar.

“Ini juga kita masih diskusikan terkait besaran riilnya berapa, dan penambahan tersebut cukup menjadi beban, pasalnya pendapatan dari sektor yang diunggulkan, yakni pendapatan rumah sakit juga makin minim,” ungkapnya.

Pemasukan terbesar Pemkab Banjar saat ini jelas Hilman, berasal dari rumah sakit.

“Biasanya rumah sakit menyumbang hingga Rp 80 miliar, namun selama pandemi hanya 30 persen daya tampung rumah sakit yang digunakan, sehingga pemasukannya pun berkurang,” pungkas Hilman. (sai)

What do you think?

Tinggalkan Balasan

Hobi Gowes Jalan, Masker Tetap Digunakan

Kemarau Tiba, Sanksi Pembakar Lahan Menanti