Mengambil Berkat Para Wali di Tiang Guru Empat

Tiang guru empat dari batang kayu ulin.

WARTAKOTA.NET – Masjid Agung Al-Karomah di Martapura, Kabupaten Banjar memiliki tiang ulin yang digantungi kembang barenteng. Sementara tiang-tiang lainnya tidak ada kembang barenteng yang digantung.

Kebiasaan masyarakat Kabupaten Banjar yang berziarah dan menaruh kembang di empat tiang, -biasa disebut tiang guru empat-, ini ternyata bukan tanpa alasan.

Ternyata, tiang kayu ulin tersebut memiliki sejarah yang konon dibawa oleh salah satu ulama besar, yakni Syech Muhammad Afif atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datu Landak.

Dalam sejarah, Datu Landak membawa tiang kayu ulin itu dari wilayah Puruk Cahu Kalimantan Tengah, untuk dijadikan tiang penyangga pembangunan Masijid Agung Al-Karomah Martapura.

“Tiang itukan ada bekas tangannya para ulama, para wali terdahulu, dalam bahasa Arabnya “asyar”, jadi kita mengambil berkat para wali, yang pernah memegang langsung tiang tersebut,” ucap salah satu Ulama Martapura, KH. Fadlan As’ary.

Tiang guru empat dari batang kayu ulin.

Jadi ungkap KH. Fadlan As’ary, masyarakat yang bernazar dan menaruh kembang di tiang-tiang itu bukan berarti mereka meminta dengan tiang.

“Nazar terlanjur dengan niat, namun bukan berarti menuhankan atau meminta kepada tiang, tapi hanya mengambil berkat para ulama dan para wali yang dimana tiang tersebut dulunya dibawa dan dipegang oleh para wali,” ujarnya.

Lebih jauh KH. Fadlan As’ary menerangkan, di dalam ajaran ahlissunnah, wal’jamaah Attabaarruku biatsaarissolihin sunnatun, artinya: mengambil berkat dengan bekas orang sholih hukumnya sunah.

“Di zaman sahabat banyak terjadi mereka mengambil berkat dengan bekas Nabi Muhammad SAW, seperti mereka mengambil keringat beliau dan dijadikan minyak wangi,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Masjid Agung Al-Karomah, Sya’rani Saleh mengatakan adat ini memang sudah ada sejak lama.

Bahkan sambungnya, sudah ada sejak masjid ini dibangun pada 1280 Hijriyah atau 1863 masehi.

“Warga senang menggantungkan kembang barenteng di empat tiang guru masjid ini ada tujuannya. Biasanya kalau hajat mereka terkabul mereka menggantungkannya di situ sebagai ungkapan rasa syukur Allah telah mengabulkan hajat-hajat mereka,” jelasnya.

Bangunan asli Masjid Al-Karomah pada zaman pendudukan Belanda. Sebelumnya masjid ini bernama Masjid Jami Martapura. Foto – Net

Sekadar diketahui, tiang guru empat adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter. (sai)

Satpol PP Banjar Gerebek Salon ‘Plus-plus’

Adian Napitupulu Buka-bukaan Soal Komisaris BUMN